Hujan…

tere liye

Darwis Tere Liye

Hai readers, kembali lagi dengan mimin si kepo nih, kali ini mimin akan mereview salah satu novel yang sangat berkesan bagi mimin, seperti judul di atas yah. Hujan. Salah satu karya Tere Liye yang nggak kalah popular dari novel-novelnya yang lain. Siapa sih yang tidak kenal dengan penulis satu ini yang biasa dikenal dengan tulisan-tulisannya yang sangat melow, galaw, dan bikin sakaw.

Dalam novel kali ini Tere Liye menceritakan kehidupan di masa depan dimana peradaban manusia sudah sangat maju, berlatar belakang sebuah kota yang memiliki infrastruktur serba canggih dan super cepat. Menceritakan sepasang manusia bernama Lail dan Esok, yang dipertemukan dengan cara yang tidak biasa yaitu oleh suatu bencana, dimana bencana tersebut membuat Lail seorang gadis cilik terpaksa harus kehilangan semua anggota keluarganya. Kemudian Tuhan berbaik hati padanya, ia dipertemukan dengan seorang bocah lelaki kuat bernama Lail, yang sudah ia anggap sebagai kakak sekaligus pengganti orang tuanya. Waktu demi waktu berlalu dengan cepat hingga mereka tak sadar bahwa, bukan hanya rasa karna persaudaraan saja yang mengikat mereka. Melainkan bersatu dengan rasa saling menyayangi melebihi sekedar kakak-beradik. Hingga pada suatu waktu Lail merasa ia tak pantas jika harus selalu menunggu Esok dan mengekang cita-citanya, suatu masa mereka harus berpisah karena tugas masing-masing, Lail yang masih harus melanjutkan studinya dan Esok yang harus bekerja di suatu perusahaan berbasis teknologi dengan level yang sudah canggih. Pada masa itu semua berbasis hologram, bahkan telepon genggam pun sudah hand-free tanpa perlu digenggam lagi. Sudah terbayangkan bagaimana kesibukan pekerjaan yang dilakukan oleh Esok, membuatnya harus banyak mengorbankan waktu untuk sekedar bertemu dengan keluarga yang tersisa dan juga Lail, yang sudah memiliki tempat di hati Esok. Lail pernah berpikir bahwa Esok sudah tidak memikirkannya karena sudah sulit mereka bertemu kini. Semakin majunya peradaban maka semakin banyak informasi yang cepat dan bahkan bisa diramalkan, suatu hari muncul akan terjadi suatu masalah di bumi yang mengakibatkan manusia akan punah. Dengan situasi yang tidak kondusif karena berita tersebut maka suatu perusahaan tepatnya di tempat Esok bekerja merancang sebuah sistem, sistem tersebut dibuat untuk mengangkut manusia menuju luar angkasa, yang dirasa lebih aman. Singkat cerita, karena Esok sudah berperan besar dalam pembuatan proyek besar tersebut ia diberi dua tiket untuk menumpang kendaraan tersebut. Tersisalah satu tiket yang bebas ia berikan kepada siapapun. Esok bimbang, ia sudah berniat memberikannya kepada Lail, namun datanglah seorang perempuan ingin mengambil tiket tersebut dengan memaksa karena ia ingin lari dari kenyataan tersebut. Dengan segala pertimbangan, Esok batalkan tiket tersebut untuk diberikan kepada Lail dan ia memutuskan memberikannya pada gadis itu. Lail yang sempat mendengar kabar tersebut terkejut, ia merasa sudah tidak dianggap oleh Esok. Ia marah, sakit, patah, hingga ia mencoba melupakan semua kenangan indah baginya bersama Esok, dengan cara instan. Di zaman yang sudah serba Hi-Tech, mudah sekali memenuhi keinginan Lail. Ia datang kepada dokter yang ahli dalam bidangnya, mengenai perasaan. Lail memutuskan untuk melupakan Esok dengan cara pemindaian pikiran dalam otak dan memilih untuk menghapus data bahagianya bersama Esok dan menyisakan apa yang ia inginkan saja. Hingga akhirnya Esok mendengar kabar tersebut, ia langsung menghampiri Lail dengan perasaan cemas. Susah payah Esok masuk dalam ruang praktik karena kuatnya keamanan di tempat itu, ia berusaha sekuat tenaga sampai berhasil. Ketika ia sudah berhasil membuka keamanan di tempat itu, ia langsung berlari masuk mencari dimana keberadaan Lail. Sampai di detik ke sekian ia menemukan sosok wanita yang selalu ada di pikirannya, ia menjelaskan pada Lail apa maksud semua ini. Esok membatalkan kepergiannya karena tiket yang ia miliki sudah diberikan kepada orang lain. Hingga datang pengakuan dari kedua anak manusia itu tentang perasaan masing-masing. Dan impian Esok dan Lail tentang hidup bersama pun akhirnya terwujud. Yaaa… bertemu karena bencana, berpisah karena bencana, dan dipertemukan kembali dengan bencana.

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan”

Jadi begitu, kisah dari Esok dan Laik. Maka yakinilah bencana hari ini mungkin akan menjadi kebahagiaan di esok hari. Sampai jumpa di tulisan-tulisan mimin kepo selanjutnya yaaaah……


Twitter


Google-plus

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *