Self-Improvement Ketika Quarter Life Crisis

Perkembangan Teknologi yang Merusak / Menunjang?

Pada peradaban yang semakin maju dan berkembang dan dalam era yang semua serba cepat. Hal tersebut menimbulkan kecenderungan masyarakat yang semakin malas dan tidak mau menikmati proses, terutama dalam hal membaca. Minat baca di Indonesia masih rendah, karena membaca dianggap hal yang sangat berat dan membuat mata menjadi kantuk. Akan tetapi, sejatinya membaca merupakan hal yang sebaiknya dijadikan kebutuhan utama sebagai asupan pengetahuan. Dari membaca kita bisa mendapatkan pengalaman, yang mungkin sebenarnya tidak kita lakukan. Sejatinya dari membaca itu kita ikut merasakan cerita dari si penulis. Dengan membaca kita bisa meliarkan imajinasi sesuka hati, dan pastinya mendapat pengalaman berbeda.

Self-improvement

Nah, yang akan mimin si kepo kali ini adalah mengenai Self-improvement. Jadi dari apa yang sudah kita ketahui sekarang masyarakat cenderung lebih malas karena perkembangan teknologi. Oleh karena itu kita semua perlu mendapat asupan berdasarkan pengalaman orang lain yang berhasil keluar dari zona nyamannya. Self-improvement sendiri memiliki arti mengembangkan diri, mengembangkan diri dari kita yang malas menjadi lebih positif.

Keluar dari zona nyaman memanglah tidak mudah, tapi itu juga bukan hal yang negatif, jadi tidak ada salahnya mencoba hal tersebut. Pengembangan diri dilakukan untuk menjaga kedinamisan di era sekarang yang menuntut tingkat atau level pemikiran seseorang jauh lebih tinggi, karena dibutuhkan inovasi-inovasi baru yang segar. Dari mana kita bisa belajar self-improvement?

Yaa… salah satunya dengan membaca, membaca itu hal yang murah, apalah arti sebuah buku karena membeli sebuah buku sama dengan investasi pengetahuan untuk jangka yang sangat panjang bahkan hingga akhir hayat. Jika uangmu habis untuk dibelikan makanan maka tidak akan mengubah suatu bangsa menjadi lebih maju, tapi ketika uangmu kau habiskan untuk membeli buku maka itu akan sedikit berkontribusi berubahnya suatu bangsa.

Penyikapan satu orang dengan orang lainnya itu berbeda, dari cara seseorang menyikapi suatu masalah dapat diambil kesimpulan bagaimana watak seseorang itu. Ambil satu contoh, melihat harga buku. Mungkin banyak orang yang mampu membeli buku, tapi hanya sedikit mereka yang mau membeli buku. Ini termasuk ke dalam self-improvement, karena pemikiran manusia yang peduli akan membaca jelas brbeda dengan yang tidak suka membaca. Dari situlah kita bisa memahami bagaimana pentingnya self-improvement ketika sudah mulai memasuki masa quarter life crisis.

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis adalah masa di mana seseorang yang berusia 25 tahunan mempertanyakan hidupnya. Di masa yang merupakan puncak kedewasaan seseorang ini, orang mulai meninjau kembali masa lalunya, apa yang telah ia lakukan, apa yang ia dapatkan, dan bagaimana kehidupannya di masa datang.

Biasanya orang yang membaca buku bertemakan quarter life crisis ini mereka yang sudah memasuki masa quarter life crisis. Hal tersebut dikarenakan mereka memiliki persepsi yang sudah berbeda. Mereka yang dalam masa quarter life crisis ini sudah lebih visioner, sehingga memerlukan bekal yang cukup untuk investasi diri di masa depan.

Quarter life crisis ini biasa terjadi karena faktor dari lingkungan luar yang menekan. Maka keluarlah dari zona nyaman, buatlah hidup sesuai dengan passion diri sendiri, dan banyaklah membaca bagaimana orang yang sukses keluar dari krisisnya kehidupan mereka. Jangan selamanya menunduk, karena ada hal baik yang juga harus kau lihat di depan sana.

Belajarlah menjadi pribadi yang open-minded, mau menerima perbedaan, dan jangan lupa membaca. Salam Literasi !

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *