Penulis, Siapa Sebenarnya Mereka??

Hai readers, kembali lagi bersama mimin si kepo di sini. Sudah lama ternyata kita tidak berjumpa dengan tulisan mimin yang penuh dengan ketidakjelasan, hehe… tapi semoga tetap bermanfaat yaaw… Kali ini mimin akan mengangkat isu tentang penulis. Mimin yakin di sini kalian semua pasti suka membaca dong yakan, karena hampir ngga mungkin kalo kalian ngga suka baca kok mampir di sini, wkwkwk… bukan maksud apa, hanya sebatas tebakan tanpa jawab.

menulis adalah sebuah upaya membangun peradaban, penulis adlaah pencipta mulia kedua setelah pencipta semesta alam

Membangun peradaban melalui ide kreatif dalam bentuk aksara

Menulis adalah suatu kegiatan menyerukan tanpa bersuara, berpendapat walau hanya dalam diam. Biasanya seorang penulis terlahir dari orang yang memiliki banyak cerita, namun bingung harus ia wujudkan dalam bentuk yang seperti apa. Termasuk mimin, saya adalah orang yang tidak pandai mengutarakan semua ide dan gagasan, hanya dapat saya ibaratkan melalui tulisan. Bukan maksud menyindir, hanya mengibaratkan apa yang tida bisa diutarakan.

Mimin pernah berkata J.S. Khairen pernah berkata “Menulis adalah membangun peradaban, dan membaca adalah menghidupkan peradaban tersebut”. Saya sangat suka dengan kalimat tersebut, sepakat dengan kalimat tersebut. Ketika kita membaca buku pasti sulit untuk memenjarakan pikiran untuk tidak liar. Ia dengan bebas berekspektasi sesuai keinginannya bagauimana peradaban yang sedang ia hadapi.

Satu yang unik dari relasi antara membaca dan menulis, seseorang tidak akan bisa menulis jika ia tidak membaca. Membaca bukanlah hal yang mudah, membaca memerlukan kemampuan bagaimana kita menyerap suatu informasi menjadi sebuah inspirasi. Banyak dari teman-teman saya pandai menulis, setelah saya telusuri jejak keseharian mereka ternyata mereka adalah seorang pembaca yang hebat.

Jadi penulis itu,

Pekerjaan menjadi seorang oenulis sangatlah tidak mudah, karena ia harus mereset yang membutuhkan waktu tidak sebentar untuk sbeuah buku baik fiksi maupun non-fiksi. Riset adalah hal yang sebenarnya wajib dilakukan oleh penulis, kita ambil contoh novel yang saya pernah ulas dalam artikel sebelumnya yaitu Kami (bukan) Sarjana Kertas ditulis dalam waktu yang tidak singkat. Sang penulis melakukan riset mengenai topik-topik yang akan dibahas pada novelnya itu, sebagai contoh ia mengangkat isu ekonomi, maka ia harus sering bermain di toko buku membeli dan membaca tulisan yang berkaitan dengan ekonomi.

Sama halnya dengan menulis suatu novel, bahkan hanya menulis satu halaman artikel ini saja saya perlu untuk meriset bagaimana kehidupan penulis. Saya mempelajari bahwa seorang penulis itu harus merasakan sebagai tokoh di dalam tulisannya. Ketika ia sudah mendapatkan rasa maka akan dengan mudah ia memengaruhi pembacanya untuk masuk ke dalam dunianya juga. Raditya Dika pernah berkata “Berangkatlah dari keresahan, jadikan sakit/patah hatimu menjadi sebuah karya”.

Dari situ saya belajar ternyata semua keresahan yang berada dalam diri apabila kita wujudkan dalam barisan aksara yang bermakna akan sedikit meluruhkan perasaan emosi dalam hati. Saya rasa pasti ada di antara manusia di muka bumi ini ketika merasakan jatu cinta akan terasa lebih mudah untuk mengucapkan kata-kata manis. Pun ketika mereka merasakan patah hati tak terasa ucapannya bak motivator. Sedang mencoba menghadapi seorang yang patah dengan segala kebijakannya.

Tapi bukan berarti semua penulis berawal dari patah hatinya, jangan disamaratakan. Tapi saya juga heran, ada apa dengan dunia. Seakan mereka mengagungkan kesedihan, dalam bentuk tulisan, lagu, lukisan, dan sebagainya. Muncullah suatu ketika penulis ‘indie’, untuk yang belum tahu saya beri sedikit tahu nih. Penulis ‘indie’ adalah penulis yang menerbitkan bukunya dengan jalur indie, biasanya penulis indie tidak memerlukan waktu lama untuk menunggu persetujuan dari penerbit, berbeda dengan penerbit mayor. Penulis indie biasanya adalah mereka yang memiliki banyak tulisan tanpa mau ribet.

Ngomong-ngomong soal indie nih, pasti sudah familiar yah, dengan senja-senji kopa-kopinya, ditambah dengan lagu indie, hiyahiya… kebetulan nih mimin nulis waktu senja. Jadi boleh kali yah mimin kasih sedikit barisan aksara nan menggetar jiwa, hahaha….

Aksara Senja

Bertumbuh dan berproses

Dua hal yang sulit untuk dilakukan

Keluar dari zona nyaman, meninggalkan rasa nyaman

Ketetapan hanya miliki Semesta

Sebagai manusia hanya bisa rencana

Air matamu bukan tonggok ukur untuk mengalihkan dunia dalam segala duka

Air peluhmu lebih berkesan, untukku yang hanya ingin rebahan

Jangan redupkan semangat, kalian hebat

Mohonlah untuk dikuatkan, lelah tiba istirahatlah

Istirahat bukan berhenti, berhentilah saat episode berakhir

Kalian lebih dari Sang pejuang

Karna itulah semesta memilihmu

Wahai jiwa yang lelah

Kalian jauh dari kata lemah

Lelah kalian lawan

Lemah kalian tebas

Bangunlah wahai jiwa yang lelah

Di sana masih banyak yang harus diperjuangkan

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *