Buku Ori vs Bajakan, Gimana Kabar Penulisnya??

menggambarkan banyak buku

Hai readers, balik lagi sama mimin si kepo nih… Jadi ceritanya mimin nulis ini karena terinspirasi dari cerita Fiersa Besari atau yang disebut Bung. Siapa sih yang ngga tahu Bung, dia adalah seorang musisi, penulis, dan seorang petualang, yang dikenal dengan salamnya. Salam Lestari! Salam Literasi! Fiersa Besari! Itu adalah slogan penutup di setiap video yang ada di channel youtubenya, yah ketahuan deh mimin subscribe, hehehe… nggapapa asal itu masih hal positif kenapa engga dilakukan. Jadi Bung ini sudah menulis sejak ia masih duduk di bangku kuliah, yang kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang musisi dan penulis melalui jalur penyebaran “indie” atau kepanjangannya adalah independen. Yang saya suka dari Bung ini adalah semua cerita yang disampaikan selalu memiliki nilai yang menginspirasi. Nah, salah satunya adalah tulisan ini, terinspirasi dari salah satu video Bung yang baru saya tonton. Pokok pembahasannya adalah mengenai buku orisinil dan buku bajakan.

Berawal Dari Keresahan

Dari video Fiersa Besari yang saya tonton membahas tentang cara membedakan buku orisinal dengan buku bajakan. Latar belakang Bung membuat video tersebut adalah berawal dari keresahannya mendapat pertanyaan dari para netizennya yaitu “bagaimana cara membedakan buku yang ori dengan yang bajakan”, karena kerap kali mendapat pertanyaan serupa dibuatlah video tersebut. Tidak hanya karena pertanyaan tersebut, melainkan juga masih ada penggemar Bung yang meminta tanda tangan namun buku yang disodorkan untuk ditandatangani merupakan buku bajakan. Muncullah keprihatinan dari Bung ketika melihat masih beredarnya buku bajakan. Dari sudut pandang penulis melihat maraknya pembajakan adalah suatu hal yang menyakitkan, karena sebuah buku tidaklah terbit hanya dalam waktu satu atau dua hari. Membutuhkan waktu yang panjang untuk serangkaian kata demi kata sehingga diterbitkan.

Perbedaan Antara Buku yang Orisinal dengan yang Bajakan

Dalam video bung tersebut menjelaskan perbedaan buku yang ori dengan yang bajakan, ada beberapa perbedaannya. Perbedaan yang pertama ada pada bahan atau kertas yang digunakan. Terbitan ori kebanyakan menggunakan kertas yang berwarna putih, bahannya cukup bagus, dan cukup tebal. Namun, pada terbitan yang bajakan biasanya menggunakan kertas buram, tipis, dan mudah sobek. Bisa juga biasanya banyak halaman yang tertukar, kemudian mudah lepas kertasnya atau kurang kuat lemnya.

Kedua, bisa dilihat dari covernya, kini sudah banyak buku dengan judul pada cover yang emboss, sehingga pada saat diraba ia seperti timbul, dan warnanya lebih tajam. Namun, pada terbitan bajakan hanya cetakan biasa, datar, tanpa emboss, dari sini sudah terlihat jelas bahwa buku itu bajakan.

Ketiga, bisa dilihat dari punggung buku atau pinggir buku. Pada terbitan ori pengelemannya terlihat sangat rapi dan halus, tidak ada lipatan atau grenjelan pada pinggir bukunya. Sedangkan pada terbitan bajakan pengelam terlihat tidak rapih, tidak rata, dan terdapat grenjelan pada pinggir buku.

Kemudian yang keempat adalah hasil cetakan, pada terbitan ori tulisan yang tercetak terlihat sangat jelas dibaca. Kemudian jika ada cetakan gambarnya akan terlihat jelas juga. Namun, pada terbitan bajakan hasil cetakannya akan terlihat buram, banyak yang tidak tercetak dengan jelas. Pada gambarnya terlihat seperti fotokopian hasilnya bukan seperti hasil printing.

Kemudian dari sisi harga yang ditawarkan jelas akan lebih murah terbitan bajakan daripada terbitan ori atau yang asli. Rata-rata harga terbitan ori di toko-toko buku besar seperti Gramedia, Togamas, dll mencapai kisaran di atas lima puluh ribu rupiah. Jadi, apabila readers menemukan buku dengan harga di bawah itu sudah dapat dipastikan itu adalah terbitan bajakan.

Lalu Bagaimana Nasib Penulis???

Terbitan bajakan tidak memberikan kontribusi apapun kepada si penulis. Dengan dibajaknya suatu karya, maka sama dengan merendahkan karya tersebut. Apabila terbitan bajakan lebih dicari ketimbang terbitan asli secara terus menerus, hal ini dapat menyebabkan matinya dunia penerbitan di Indonesia. Matinya penerbitan di Indonesia akan berimbas pada penulis, bisa jadi ia tidak bisa mendapat royalti dari tulisannya karena tidak ada pemasukan dari penjualan.

Akan lebih terhormat jika readers meminjam saja di perpustakaan yang sudah bisa dipastikan keorisinalitasannya, daripada harus membeli terbitan bajakan. Selain dikarenakan hal tersebut ilegal kita juga patut mengapresiasi karya para penulis.

Jadi teruntuk readersku tersayang, besok-besok lagi kalo beli buku yang asli yaa, jangan yang bajakan. Menurut mimin kalo baca buku bajakan itu matanya mudah lelah, ngga tau kenapa tapi berasanya pasi gitu deh. Ngga cuma mudah lelah aja tapi bisa sampe berair kaya orang nangis, mungkin karena haisi cetakan yang tidak maksimal. Selain itu juga buku bajakan gampang lepas-lepas halamannya, suka kesel deh kalo halamannya pada lepas-lepas gitu.

Mungkin cukup sekian curhatan mimin si kepo, hehehe… Sampai jumpa di postingan mimin selanjutnya, jangan lupa rindu yaa… Dan tunggulah aku di sana memecahkan celengan rinduku…. *plak* malah nyanyi, hayoo ngaku siapa yang baca sambil nyanyi. Sekian dan terima kasih. Salam Literasi!

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *